Teknologi mengendalikan serangan ulat grayak pada bawang merah; Spodoptera exigua; Spodoptera litura

Di Indonesia, ulat grayak utama adalah Spodoptera exigua (larva berwarna coklat kehijauan) dan Spodoptera litura (larva berwarna coklat). Ulat grayak tinggal di bawah permukaan tanah di siang hari dan aktif memakan tajuk tumbuhan pada malam hari. Serangannya dapat sangat hebat sehingga dalam waktu semalam dapat menghabiskan suatu pertanaman, dan oleh sebab itu dikenal sebagai "ulat tentara"
Ratusan telurnya bisa berkembang biak. Dalam hitungan minggu serangan ulat grayak tanpa pengendalian bisa menyebabkan kerugian panen bawang merah yang sangat besar. Menggunakan pembasmi hama alami ataupun kimia ternyata tidak mampu mengatasi serangan ulat yang juga dikenal dengan sebutan ulat tentara ini. semakin hari, ulat grayak mulai kebal dengan insektisida. Ada beberapa faktor penyebab peningkatan populasi dan timbulnya sifat kebal ulat grayak terhadap insektisida, di antaranya:
a. Penggunaan dosis pemakaian insektisida yang berlebihan.
b. Penggunaan satu jenis bahan aktif secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. c. Penggunaan insektisida dengan bahan aktif yang tidak sesuai dengan hama sasaran. 
d. Waktu penyemprotan yang tidak tepat.
e. Frekuensi penyemprotan yang kurang tepat.
lalu, bagaimana pengendalian ulat grayak ini pada bawang merah? berikut adalah beberapa teknologi ampuh yang bisa mengendalikan serangan hama ulat grayak;
1. menggunakan lampu perangkap,
Lampu Perangkap kolam
Sekilas teknologi ini sangat sederhana tetapi mampu mengurangi populasi dari imago ulat grayak ini. cara kerjanya adalah lampu dinyalakan pada malam hari sehingga imago dari ulat ini akan tertarik mendekati cahaya, dan ketika imago mendekati lampu tersebut akan jatuh kedalam kolam yang berisi air, ini juga merupakan salah satu teknologi pertanian terpadu Bawang merah dengan ikan, dimana imago akan menjadi pakan ikan secara tidak langsung.
2. Teknologi Rotasi tanaman,
Rotasi tanaman adalah praktik penanaman berbagai jenis tanaman secara bergiliran di satu lahan.Rotasi tanaman mencegah terakumulasinya patogen dan hama yang sering menyerang satu spesies saja. Rotasi tanaman juga meningkatkan kualitas struktur tanah dan mempertahankan kesuburan dengan melakukan pergantian antara tanaman berakar dalam dengan tanaman berakar dangkal. Rotasi tanaman merupakan bagian dari polikultur. rotasi tanaman ini akan memutuskan siklus hidup dari ulat grayak.
3. Menggunakan bahan kimia

Pengendalian Manual
Ulat grayak pada bawang merah seringkali menjadi momok bagi petani. Kurang antisipatif terhadap hama ini dapat menimbulkan kerugian terhadap hasil panen. Penggunaan insektisida berkualitas, membantu petani menjaga kualitas dan kuantitas produksi. Ada banyak jenis insektisida kimia seperti Alika, Prevathon dan sebagainya. Meskipun praktis dan cepat, namun jika langkah penggunaannya tidak tepat, maka ulat grayak masih bisa berkembang dan akan menyebabkan resistensi hama ulat grayak meningkat.
4. Pengendalian ulat grayak secara manual

Secara manual dilakukan dengan memungut ulat dan mengumpulkan kumpulan telurnya secara langsung. Kemudian daun yang bergejala dimusnahkan dengan dibakar atau dipendam dalam dalam di tanah. daun yang terserang ulat grayak dipotong dan dikumpulkan kemudian dikuburkan.
5. Teknologi Tumpangsari,
Disekitar tanaman bawang merah dapat ditanami dengan daun bawang juga, daun bawang ini bisa menjadi alternatif inang dari ulat grayak, dapat juga dengan menanam tanaman yang mengandung allelopati yang bisa menghambat penyebaran ulat grayak.

Komentar

  1. Terimakasih infonya. Jangan lupa kunjungi kami http://bit.ly/2Mr7sFC

    BalasHapus

Posting Komentar